Heart Under Blade Blog

Apa? Pahala? Nggak penting tuh!

Posted on: January 4, 2010

Sekitar 14-15 abad yang lalu, baginda Rasulullah SAW. berjuang menyampaikan Islam kepada seluruh umat manusia. Begitu banyak perlawanan dan penolakan kaum kafir, namun Rasulullah tetap bertahan dan terus maju untuk menyampaikan ajaran Allah ini. Tidak salah jika seorang yang bukan muslim (Michael Hart) memasukkan nama Nabi Muhammad ke 100 orang paling berpengaruh, dan tidak tanggung-tanggung Nabi langsung masuk urutan pertama, baru kemudian disusul Newton diurutan kedua.

Yang ingin saya bahas di sini adalah tentang pahala. Mengapa Allah menjanjikan adanya pahala? Pertanyaan ini cukup mengusik saya sehingga saya sangat ingin segera menuliskan ini agar tidak lupa. Saya mencoba berpikir dengan cara pandang filsafat dan tasawuf. Namun intinya saya masih belajar dan terus belajar.

Di awal perjuangan penyebaran agama Islam, Rasulullah membutuhkan banyak strategi untuk menyelamatkan umat manusia dari kesesatan. Salah satunya ialah dengan janji Allah tentang pahala, ganjaran, balasan, atau makna sejenisnya. Janji Allah tentang pahala ini ada yang jelas diatur dan ada yang belum jelas berapa besarnya. Contoh yang jelas adalah pahala shalat berjamaah ialah 27 kebajikan (kalau tidak salah), membaca ayat Al-Quran setiap huruf dihitung 10 kebajikan (kalau tidak salah), dan lain sebagainya. Kemudian ada lagi contoh pahala yang belum jelas besarnya (belum bisa dibayangkan secara detail) adalah shalat sunnah rawatib yang jika dikerjakan akan mendapatkan lebih baik dari yang mengisi seluruh langit dan bumi. Seberapa besar langit? Seberapa besar bumi? Hal ini yang belum jelas, tapi intinya pahala atau balasannya sangat besar.
Kemudian saya agaknya ragu dengan banyaknya pahala yang akan dijadikan patokan untuk masuknya seorang hamba ke surga atau neraka. Karena sebenarnya bukan itu esensi yang kita butuhkan. Saya merasa ada perhitungan lain yang menilai hati (niat) seseorang dan kelakuan seseorang, mungkin sangat mirip dengan pahala tapi bedanya orientasi awalnya bukan semacam itu.

Jadi begini misalnya kita membaca “Lailahaillallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumittu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir”. Menurut hadis, jika bacaan tersebut dibaca 10 kali maka pahalanya ialah sama dengan membebaskan seorang budak. Bayangkan jika dibaca 100 kali = 10 budak yang kita bebaskan. Saya ingin mengatakan pahala itu ada agar kita tertarik mengerjakannya. Bagi orang yang masih tergolong baru dalam ber-Islam dan masih hanya berorientasi pada pahala mereka masuk ke dalam tingkatan syariat. Saya harap kita tidak terjebak dalam syariat ini, kita harus terus naik tingkat dalam hal beragama menuju ma’rifat. Lupakan berapa besar pahala yang bisa didapat, yang penting itu “koneksi” kita dengan Allah, membaik atau biasa-biasa saja?

Dari masalah di atas, sepertinya Allah menginginkan kita untuk membaca kalimat yang sudah saya sebutkan di atas. Karena apa? Dengan membaca tersebut kita diharapkan bisa selalu ingat kepada Allah, saya kira bacaan ini lebih kuat untuk menyambungkan diri kita kepada Allah daripada bacaan yang lain. Agar tidak hanya sekedar komat-kamit, kita harus mencoba dan berusaha mengartikan dan memaknai bacaan yang kita baca. Paling tidak jika kita sudah sedikit dem sedikit diberi pemahaman tentang bacaan tersebut, maka Allah akan terus menambahkan pemahaman kita terhadap ilmu Allah yang lain.

Dengan ingat kepada Allah apakah masih mungkin di antara kita berani berbuat maksiat? Jelas masih mungkin, tapi bukankah berbeda dengan mereka yang tidak pernah menyebut asma Allah? Pasti akan disertai kekhawatiran, ketakutan, kegelisahan, ketidaknyamanan, dan sebagainya. Dengan selalu ingat kepada Allah kita diharapkan selalu berbuat baik terhadap sesama, terus menanam amal baik, menjaga diri dari maksiat, menjaga diri dari pandangan/pendengaran/ucapan, merasa selalu diawasi Allah, dan banyak hal yang membutuhkan kesadaran akan keberadaan Allah.

Jika di sekolah kita belajar dalam keadaan “terhubung” kepada Zat Maha Pemilik Ilmu, apakah tidak mungkin transfer ilmu dari seorang guru kepada muridnya akan begitu dimudahkan oleh Allah. Belum lagi kalau Allah menyisipkan ilmunya kepada kita, sungguh manfaat luar biasa dari bacaan dzikir semacam di atas.

Jika kita sudah “terhubung” dengan Allah selalu, di mana pun dan kapan pun maka secara bersamaan seiring semakin lamanya kita mengingat, akan tumbuh rasa cinta kepada Allah. Layaknya seorang pria mencintai seorang wanita, pria tersebut akan melakukan apapun untuk mendapatkan hati wanita pujaan hatinya. Sepertinya Allah memunculkan perumpamaan semacam itu juga, segala perbuatan yang kita lakukan akan sama sekali tidak berorientasi pada pahala. Tetapi justru murni sebuah kecintaan kita seorang hamba kepada majikannya yang memberikan hidup. Disuruh shalat ya mengerjakan shalat, disuruh menunaikan zakat ya menunaikan zakat, disuruh bershadaqah ya bershadaqah, dan seterusnya hanya didasarkan karena cinta.

Untuk mengetahui manfaat dari dicintai Allah baca tulisan saya yang lain di “Tahukah Anda manfaat mencintai dan dicintai Allah?”. Tunggu saja!

Dalam tulisan saya ini saya yakin anda tidak yakin kebenaran yang dikandung karena Allahu A’lamu (Allahlah yang paling tahu). Apalagi saya tidak mencantumkan satupun ayat. Karena dalam waktu yang terbatas saya mohon kemaklumannya. Terima kasih telah membaca tulisan saya. Selamat berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah untuk menjadi yang hambanya terbaik dan selamat membaca tulisan saya lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KaLeNdEr!!!

January 2010
M T W T F S S
« Nov   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

VoTe Me!!

ArSziP!!

%d bloggers like this: