Heart Under Blade Blog

Merenungi Estetika Bahasa Tubuh

Posted on: May 6, 2010

Baru-baru ini (23/4) di halaman Rumah Baca Komunitas Merapi di lereng Gunung Merapi berlangsung Aksi Bisu Hari Buku Sedunia yang di hadiri lebih dari seratus anak petani lereng Merapi dan seorang seniman muda asal Yogyakarta bernama Yuliono yang menampilkan performance art berjudul “Buku adalah Jendela Dunia Fana“. Yuliono adalah seorang seniman muda yang cukup berbakat. Bakat seninya berpusat pada seni pantomim yang lahir secara natural.

Bakat alam yang terpendam ini baru disadari dalam kelananya dari Wonosobo ke Yogyakarta 10 tahun silam. Berbekal tekad semata ia berkelana ke Kota Gudeg Yogyakarta dengan memendam keinginan dalam hati yaitu ingin menjadi seorang seniman. Ia telah menjalani kerasnya kehidupan di jalanan dan tidur di emperan hingga kini sudah mampu kuliah, main film dan kos dengan biaya sendiri. Berbagai profesi telah dijalaninya mulai dari jadi pengamen, pemulung, tukang cat, tukang sol sepatu hingga tukang bangunan. Kini pun ia masih terus berjuang dan tak segan-segan pula menjadi pengamen dan tukang sol sepatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Bakat seni pantomim yang dihidupinya adalah pijar-pijar kehidupannya sendiri. Gerak tubuhnya adalah gumpalan penghayatan pengalaman kehidupannya selama ini. Gerak dan bahasa tubuh yang berupa simbol-simbol itu merupakan ekspresi diri yang isinya mau melukiskan intisari ilham yang telah dicernanya.

Pada aksi bisu selama satu jam untuk memperingati Hari Buku Sedunia itu, Yuliono tampil dengan elegan membawakan bahasa simbol-simbol dalam gerakan tubuhnya. Ia muncul di luar jatah waktu yang dijadwalkan sehingga membuat Loyola Kukuh selaku panitia penyelenggara sedikit kelabakan. Yuliono tiba-tiba saja keluar dengan menenteng sebuah ember yang di dalamnya ada gayung plastik dan keranjang bambu kecil berlubang-bulang.

Imajinasinya cukup liar dalam memaknai buku. Baginya, membaca itu sangat penting bagi generasi muda dewasa ini. Makanya, ia menyodorkan satu kerangka pemikiran yang cerdas dalam bahasa simbol-simbol. Membaca itu harus sungguh-sungguh dan penuh kesadaran. Membaca yang sungguh-sungguh ibarat mandi dengan gayung plastik yang rapat. Dengan cara demikian maka akan banyak ilmu yang diserap. Komparasi elegan lain yang disodorkannya yaitu proses membaca dengan konsentrasi yang bolong-bolong. Ibarat mandi dengan keranjang bambu kecil yang bolong-bolong, ilmu yang diserap tidak akan maksimal.

Bahasa Tubuh

Apa yang dibahasakan Yuliono dalam gerak tubuh berjudul “Buku adalah Jendela Dunia Fana“ menyeruak nalar penulis pada alur logika dan ruang kontemplasi intelektual. Apa yang dihadirkan oleh Yuliono adalah bahasa simbol-simbol. Gerak tubuhnya mengurai setiap gagasan yang ada dalam pikirannya tanpa terjebak pada bahasa verbal. Mengurai setiap gagasan ke dalam gerak tubuh membutuhkan kesadaran yang cukup ketat agar tercipta kekonektisitas dan keharmonisan antara pikiran dan gerak tubuh. Pikiran yang mengalir dalam gerak tubuh mengandaikan adanya kemampuan manusia mengontrol tubuhnya sendiri. Pikiran mengirimkan sinyal-sinyal kepada anggota tubuh untuk bergerak. Daya tangkap dan korelasi yang harmonis ini mengandaikan adanya kesadaran nalar yang ketat.

Dalam tradisi Skolatik dikatakan bahwa manusia mempunyai suatu lumen naturale, suatu terang alami yang terletak dalam batinnya. Terang itu disebut alamiah sebab terang itu ditemukan dalam alam manusia sebagai bagian hakiki darinya. Pada Aristoteles dan Thomas Aquinas lumen naturale ini disamakan dengan akal budi aktif (nous poietikos, intellectus agens). Pada Aristoteles akal budi dianggap bersifat ilahi, sedangkan pada Thomas Aquinas akal budi dipandang sebagai bagian dari manusia itu sendiri. Bukan hanya apa yang di sekitar manusia mendapat arti. Terang itu bersinar kemana-mana, sehingga apa saja yang ada dalam jangkauannya termasuk manusia sendiri, dimengerti. Realitas pikiran pada manusia lantas mendapat arti. Apa yang tersembunyi bagi manusia kini menjadi tidak tersembunyi karena adanya lumen naturale tersebut.

Membahasakan pikiran dalam gerak tubuh membutuhkan kerangka terang alami. Setiap gerak tubuh yang berbicara tanpa kata-kata dalam seni adalah cermin setiap gagasan yang ada dalam pikiran. Peranan kesadaran dalam hal ini sangat besar. Kesadaran atau dalam Bahasa Jermannya Bewusstsein adalah awal dari pengenalan akan sesuatu. Yang benar-benar ada dalam kenyataan adalah apa yang ada bagi kesadaran. Sebaliknya, apa yang bagi kesadaran tidak ada, bagi kita juga tidak ada dalam kenyataan. Kesadaran adalah perlu dan mutlak untuk menjadikan apa saja menjadi benar-benar ada.

Manusia adalah subyek kesadaran. Kesadaran mampu menerobos dan melewati segala batas obyektivasi. Dasar semua ini yaitu kesadaran yang berpangkal dari diri kita sebagai (Dasein), sebagai pengada yang berada di tengah-tengah segala pengada yang lain. Dasein (Inggris, being there) merupakan kenyataan saya sendiri dan segala sesuatu yang ada bagi saya (kehadiran). Manusia sebagai pengada si satu sisi sama dengan pengada-pengada yang lain yang dapat dijadikan obyek pemikiran dan penyelidikan, di sisi lain manusia berbeda sebab mampu memikirkan dan menyelidiki pengada-pengada.

Manusia adalah subyek atau pusat. Pusat tidak dapat dikenal (erkennen) dan hanya bisa dijelaskan (erhellen). Manusia menginsyafi bahwa sebagai subyek ia tidak dapat diobyektivasikan. Subyek sebagai eksistensi (Existenz) menerobos dan melewati segala batas-batas obyektivasi. Eksistensi adalah aku yang sebenarnya, yang bersifat unik dan sama sekali tidak obyektif. Eksistensi adalah inti kebebasan total manusia. Eksistensi dapat dihayati, diterangi melalui refleksi filosofis dan dapat dikomunikasikan dengan orang lain. Penghayatan eksistensi yang sungguh-sungguh memampukan manusia berbicara dalam bahasa simbol-simbol dalam bahasa tubuh. Yuliono ternyata telah sampai pada tataran yang demikian ini dan membumihanguskan setiap bahasa verbal.

Fantasi Kreatif

Daya psikis yang dengannya manusia membayangkan sesuatu disebut fantasi. Fantasi sebagaimana disadari seseorang adalah daya psikis untuk membuat gambar-gambar yang bisa jadi tidak merepresentasikan pengalaman-pengalaman. Hal ini tidak berarti bahwa apa yang dibayangkan itu tidak ada hubungannya dengan pengalaman. Bayangan hanya dapat timbul atas dasar pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dari pengalaman-pengalaman itu manusia melalui fantasinya menimba bahan untuk membuat bayang-bayang baru. Bayang-bayang atau gambar-gambar baru ini nyata-nyata disertai emosi, persepsi dan ingatan.

Fantasi kreatif yang dikulminasikan dalam bahasa tubuh adalah bayang-bayang baru yang lahir dari kegenialan nalar yang sungguh-sungguh berproses dan berkesadaran. Emosi, persepsi dan ingatan mengalir rancak dalam gegap bahasa tubuh tanpa tendensi tuduhan kesurupan. Tubuh bergerak dengan dorongan nalar sehingga tercipta simbol-simbol dari gerak tubuh yang berstruktur dan berlogika. Bahasa tubuh bertutur tentang nilai-nilai luhur yang telah dicerna oleh nalar dan disodorkan dalam ruang kontemplasi pada para penikmat.

Fantasi kreatif menerobos setiap batas kenormalan dan melahirkan sesuatu yang baru. Fantasi kreatif mampu mengoleksi sekaligus menegasi segala bentuk yang ada di dalam pengalaman untuk diwujudnyatakan dalam gambar-gambar yang baru. Selain itu, fantasi kreatif selalu terkait dengan kehidupan si Pelaku sebagai pribadi. Apa yang diinginkan dan dicita-citakan si Pelaku nampak dalam bayangan-bayangan yang muncul dalam batinnya dan tereja dalam bahasa tubuh.

Fantasi kreatif adakalanya memproduksi penglihatan-penglihatan masa depan yang tak terkatakan dalan bahasa verbal karena kemiskinan kosa kata bahasa verbal. Ada saat dimana bahasa tubuh menjadi tetap tersembunyi dan tidak mampu diterjemahkan dalam kata-kata. Oleh sebab itu, fantasi kreatif tentu saja penting sebagai daya kreatif di segala sendi kehidupan. Fantasi bisa juga menjadi sarana membangun suatu hidup yang sesuai dengan cita-cita pribadi dan nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat. Estetika bahasa tubuh yang lahir dari kontemplasi dan penalaran pengalaman bisa jadi merupakan bahasa simbol yang mengedepankan analisa dan tanggung jawab masa depan dari suatu generasi yang sedang gelisah. Dalam seni, bahasa tubuh yang estetis lahir dari totalitas kesadaran dan fantasi kreatif yang diolah pada dimensi kontemplasi.(kompas.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KaLeNdEr!!!

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

VoTe Me!!

ArSziP!!

%d bloggers like this: